Minggu, 18 Januari 2015
Judi Nalo

Souw
Beng Kong mendapat hak menarik cukai sebesar 20 % pajak judi yang
dikenakan VOC kepada pemilik rumah judi. Jenis judi kartu dan dadu
disebut juga Po salah satu jenis judai populer di kalangan penjudi
Batavia. Selain itu masyarakat Tionghoa pun juga sudah memperkenalkan
judi Capjiki. Sementara lotere yang merupakan judi Eropa atau Belanda
baru masuk Hindia Belanda pada pertengahan abad 19.
Baru pada tahun 1960 Nasional Loteri (NALO) muncul di Indonesia diikuti Lotre Totalisator (LOTTO)
Kupon Undian Berhadiah PORKAS, KSOB, TSSB sampai yang terahir kemarin Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB).
Kupon Undian Berhadiah PORKAS, KSOB, TSSB sampai yang terahir kemarin Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB).
Toto dan Nalo
Judi lotre sudah ada sejak tahun 1960-an yang pada waktu itu lebih dikenal dengan nama buntut. Walaupun tidak semua tempat di Indonesia itu sama, contoh di Bandung ada lotre yang disebut Toto Raga sebagai bentuk pengumpulan dana mengikuti balapan kuda. Jakarta saat Ali Sadiki nmenjadi gubernur muncul lotre yang diberi nama Toto dan Nalo (Nasional Lotre).
Dimulai ketika Pemda Surabaya tahun 1968 mengeluarkan Lotto (Lotre Totalisator). Saat itu banyak orang yang menghubungkan dengan Pekan Olah Raga Nasional (PON) tetapi Lotto (Lotre Totalisator) tidak ada hubunganya dengan PON secara umum di Indonesia. Tujuannya menghimpun dana bagi Pekan Olah Raga Nasional (PON) VII yang diselenggarakan di Surabaya tahun 1969 bukan untuk PON di Indonesia. Maka di awal orde baru Nalo merupakan judi yang berkembang di masyarakat.

Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More ᆔ
Related Posts:
Judi Indonesia dari Zaman Zaan Souw Beng Kong Sampai SDSB
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar: